Daerah  

Abri Kore: Program Boleh Beda, Tujuan Tetap Sama – Dari Lalamentik Hingga Melki-Johni, Ini Estafet 67 Tahun Pembangunan NTT

Reporter : Ivan Wuran
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi NTT, Yohanes Abrianto Kore, adalah S.STP, M.Si.//Foto.dok.Biro Adpim Setda NTT.

*Hendrikus Fernandez (1988-1993)* dengan GEMPAR dan GERBADES fokus peningkatan pendapatan rakyat dari potensi lokal.

*Herman Musakabe (1993-1998)* mewariskan kebijakan paling membekas: *tenun ikat sebagai seragam ASN* yang menggerakkan ekonomi perajin perempuan hingga kini.

*Piet A. Tallo (1998-2008)* dengan filosofi *Tiga Batu Tungku*: Ekonomi Rakyat, Pendidikan Rakyat, Kesehatan Rakyat.

*Anggur Merah Rp 817 Miliar Hingga TJPS*

*Frans Lebu Raya (2008-2018)* dengan program fenomenal *Desa Mandiri Anggur Merah*: Rp 250 juta per desa, total *Rp 817,5 miliar untuk 3.270 desa* mulai 2011.

*Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi (2018-2023)* dengan pariwisata Labuan Bajo sebagai prime mover, field leadership, dan *Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS)*.

Baca Juga :  Hoaks! Video Viral Berisi Narasi Pemecah Belah Agama

Setelah masa transisi Robert Simbolon, Ayodhia Kalake, dan Andriko Susanto, estafet kini di tangan Melki Laka Lena-Johni Asadoma (2025-2030)* dengan semangat “Ayo Bangun NTT”* dan Dasa Cita: NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, Berkelanjutan.

*Tidak Mulai dari Nol*

Abri Kore menegaskan sejarah NTT tidak terputus.

“Estafet itu artinya kita tidak memulai semuanya dari nol. Setiap pemimpin menerima apa yang sudah dikerjakan sebelumnya, kemudian menghadapi persoalan yang berbeda pada masanya, memberikan gagasan dan kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, lalu menyerahkannya kepada kepemimpinan berikutnya. Di situlah kesinambungan pembangunan itu terjadi,” jelasnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung