SMAK St. Yakobus Lewoleba Warnai Hari Toleransi Lembata

Prolog ini membangun rasa penasaran penonton dan membawa mereka masuk ke dialog babak pertama tentang kesibukan mengejar uang.

Babak kedua menampilkan metanoia, ajakan untuk berhenti berdebat dan mulai mendengarkan suara hati.

Bentangan kain adat Lamaholot menjadi simbol penutup fragmen, memperlihatkan keheningan sebagai ruang perjumpaan manusia dengan Tuhan.

Narator kembali menyampaikan epilog reflektif:

“Di bumi ini, ada ribuan cara manusia memanggil nama Tuhan…
Namun dalam keheningan, semua nama menjadi satu. Uang dapat membangun rumah ibadah, tetapi keheninganlah yang membangun jembatan antar hati.”

Baca Juga :  Makna Luka Kasih Yesus di Kayu Salib

Epilog ini membawa suasana hening yang mengajak penonton merenungkan kembali makna toleransi dan persaudaraan universal.

Setelah fragmen, SMAK menampilkan monolog berjudul “Tentang Kita”, yang menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu sumber ilahi yang sama.

Karena itu, tidak ada alasan untuk saling menghakimi atau merasa paling benar.

“Agama adalah jalan menuju rumah abadi, bukan alat untuk membangun tembok pemisah.”

Baca Juga :  Sekda Kota Kupang Buka Talkshow Moderasi Beragama

Semoga Lembata terus menjadi contoh kerukunan bagi Indonesia dan dunia.

Reporter: KR

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung