<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bencana Hidrometeorologi &#8211; kabartimor.id</title>
	<atom:link href="https://kabartimor.id/tag/bencana-hidrometeorologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<description>Jernih Melihat Dunia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jan 2026 08:28:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://kabartimor.id/wp-content/uploads/2024/11/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Bencana Hidrometeorologi &#8211; kabartimor.id</title>
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puncak Musim Hujan, Waspada Cuaca Ekstrem di NTT</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/puncak-musim-hujan-waspada-cuaca-ekstrem-di-ntt/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2026 08:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Hidrometeorologi]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG Kupang]]></category>
		<category><![CDATA[cuaca ekstrem NTT]]></category>
		<category><![CDATA[hujan lebat NTT]]></category>
		<category><![CDATA[La Niña Lemah]]></category>
		<category><![CDATA[Monsun Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Puncak Musim Hujan 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Siklon Tropis NTT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=5630</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; Memasuki puncak musim hujan, masyarakat di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><em><strong>KR</strong></em> &#8211; Memasuki puncak musim hujan, masyarakat di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi.</p>
<p dir="ltr">Berdasarkan analisis cuaca, terdapat sejumlah fenomena atmosfer yang berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga sangat lebat, petir/kilat, angin kencang, hingga puting beliung. Kondisi ini telah terjadi sejak pertengahan Januari 2026 dan diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.</p>
<p dir="ltr">Fenomena Atmosfer Penyebab Cuaca Ekstrem di NTT</p>
<p dir="ltr">1. Aktifnya Monsun Asia</p>
<p dir="ltr">Aktivitas Monsun Asia ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan. Massa udara dari Asia bergerak ke selatan dan memasuki wilayah Indonesia, terpantau di Laut Cina Selatan dan Selat Karimata.</p>
<p dir="ltr">Kondisi ini membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis (Intertropical Convergence Zone/ITCZ) yang membentang dari Samudera Hindia barat Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur hingga Laut Arafura.</p>
<p dir="ltr">2. Pusat Tekanan Rendah di Selatan NTT</p>
<p dir="ltr">Terpantau adanya potensi pusat tekanan rendah di wilayah selatan NTT yang dapat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis hingga Siklon Tropis.</p>
<p dir="ltr">Fenomena ini menyebabkan pertemuan, perlambatan, dan belokan angin, yang berdampak pada peningkatan curah hujan disertai kilat/petir dan angin kencang, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.</p>
<p dir="ltr">3. Gelombang Atmosfer Tropis Aktif</p>
<p dir="ltr">Beberapa gelombang atmosfer tropis seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin terpantau aktif atau berada pada fase yang mendukung pembentukan awan hujan.</p>
<p dir="ltr">Gelombang ini memicu konvergensi udara di lapisan bawah atmosfer, sehingga mendorong naiknya udara lembap dan memperkuat proses pembentukan awan hujan.</p>
<p dir="ltr">4. Indeks IOD Negatif dan La Niña Lemah</p>
<p dir="ltr">BMKG memantau kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) bernilai negatif serta La Niña lemah. Kedua fenomena ini berkontribusi pada meningkatnya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia.</p>
<p dir="ltr">Meski tergolong lemah, La Niña tetap memberikan dampak signifikan saat puncak musim hujan, terutama berupa peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya NTT.</p>
<p dir="ltr">5. Kelembapan Udara Tinggi</p>
<p dir="ltr">Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, kelembapan udara di lapisan atmosfer 700 mb dan 500 mb terpantau cukup basah.</p>
<p dir="ltr">Kondisi ini didukung oleh suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah NTT, sehingga meningkatkan suplai uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan yang masif.</p>
<p dir="ltr">Masyarakat NTT diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang, khususnya di wilayah rawan bencana.</p>
<p dir="ltr">Menghindari aktivitas di sekitar sungai, lereng curam, dan daerah rawan longsor saat hujan lebat.</p>
<p dir="ltr">Mengamankan benda-benda di sekitar rumah yang mudah terbawa angin atau aliran air.</p>
<p dir="ltr">Selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti imbauan resmi dari BMKG dan BPBD setempat.</p>
<p dir="ltr">BMKG mengingatkan kondisi cuaca yang bersifat dinamis dan cepat berubah, masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG: Website: <a href="http://www.bmkg.go.id" rel="noopener">www.bmkg.go.id</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada! Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai Indonesia Hingga Februari Mendatang</title>
		<link>https://kabartimor.id/nasional/waspada-cuaca-ekstrem-dan-bencana-hidrometeorologi-mengintai-indonesia-hingga-februari-mendatang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jan 2024 09:09:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Hidrometeorologi]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=966</guid>

					<description><![CDATA[kabartimor.id-Cuaca ekstrem masih mengancam sebagian besar wilayah Indonesia hingga Februari mendatang. Masyarakat diminta waspada dan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://kabartimor.id/tag/kabartimor.id">kabartimor.id</a></strong>-Cuaca ekstrem masih mengancam sebagian besar wilayah Indonesia hingga Februari mendatang. Masyarakat diminta waspada dan siap-siaga akan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.</p>
<p>&#8220;Cuaca ekstrem ini dapat terjadi selama periode puncak musim hujan yaitu di bulan Januari dan Februari. Potensi hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi masih memiliki peluang yang tinggi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,&#8221; ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Melalui Akun Resmi BMKG, Jum&#8217;at (12/1/2024).</p>
<p>Dwikorita menerangkan, sedikitnya terdapat tiga penyebab terjadinya cuaca ekstrem ini. Pertama, Monsun Asia yang menunjukkan aktifitas cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini berpotensi dapat disertai adanya fenomena seruakan dingin yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.</p>
<p>Kedua, kata Dwikorita, adanya daerah tekanan rendah yang terpantau di sekitar Laut Timor, Teluk Carpentaria dan di Samudra Hindia barat Sumatra yang dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan ekuator, serta dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian selatan, serta berdampak pada peningkatan gelombang tinggi di perairan sekitarnya.</p>
<p>Dan, ketiga yaitu aktifitas gelombang atmosfer masih menunjukkan kondisi yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca ekstrem dalam sepekan kedepan, yaitu fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang terbentuk bersamaan dengan aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial. Kondisi tersebut dapat meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
