<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fraksi PKB &#8211; kabartimor.id</title>
	<atom:link href="https://kabartimor.id/tag/fraksi-pkb/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<description>Jernih Melihat Dunia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2026 08:21:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://kabartimor.id/wp-content/uploads/2024/11/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Fraksi PKB &#8211; kabartimor.id</title>
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kelangkaan Minyak Tanah Jadi Sorotan, DPRD NTT Minta APH Usut Dugaan Permainan Distribusi</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/kelangkaan-minyak-tanah-jadi-sorotan-dprd-ntt-minta-aph-usut-dugaan-permainan-distribusi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2026 08:19:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Agen Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[APH]]></category>
		<category><![CDATA[BBM bersubsidi]]></category>
		<category><![CDATA[BPH Migas]]></category>
		<category><![CDATA[Distribusi Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD NTT]]></category>
		<category><![CDATA[ESDM NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Fraksi PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Minyak Tanah Naik]]></category>
		<category><![CDATA[HET Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Kelangkaan Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Komisi IV DPRD NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Kupang]]></category>
		<category><![CDATA[Marselinus Anggur Ngganggus]]></category>
		<category><![CDATA[Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Minyak Tanah NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[Satgas Minyak Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Subsidi Energi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=6556</guid>

					<description><![CDATA[KR – Kenaikan harga minyak tanah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memicu keresahan masyarakat...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>KR</strong></em> – Kenaikan harga minyak tanah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memicu keresahan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).</p>
<p>Di sejumlah wilayah, termasuk Kota Kupang, warga mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah dengan harga eceran resmi yang saat ini harga lagi tidak wajar.</p>
<p>Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa telah terjadi kelangkaan di tengah masyarakat.</p>
<p>Namun, Anggota DPRD Provinsi NTT Fraksi PKB, Marselinus Anggur Ngganggus, ST., MT, mengaku bahwa berdasarkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pertamina serta uji petik yang dilakukan Komisi IV DPRD NTT, kuota minyak tanah yang disalurkan ke NTT sebenarnya telah sesuai dengan permintaan pemerintah kabupaten dan kota.</p>
<p>&#8220;Secara kuota, Pertamina menyalurkan sesuai dengan permintaan pemerintah daerah. Dari hasil uji petik yang kami lakukan juga, jumlahnya sesuai. Artinya, seharusnya tidak terjadi kelangkaan,&#8221; kata Marselinus pada Selasa, 28/07/2026.</p>
<p>Meski demikian, ia mengakui kenyataan di lapangan justru berbeda. Harga minyak tanah bersubsidi yang seharusnya dijual sekitar Rp4.500 per liter, di sejumlah tempat dijual jauh lebih mahal karena masyarakat kesulitan memperoleh pasokan.</p>
<p>Menurutnya, ada dua kemungkinan yang menjadi penyebab persoalan tersebut. Pertama, data kebutuhan minyak tanah yang diajukan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat kemungkinan belum mencerminkan kebutuhan riil masyarakat. Kedua, persoalan justru terjadi pada mata rantai distribusi setelah minyak tanah diterima oleh agen.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergub Pendidikan NTT Disebut Adil, Fraksi PKB Bilang Tidak</title>
		<link>https://kabartimor.id/pendidikan/pergub-pendidikan-ntt-disebut-adil-fraksi-pkb-bilang-tidak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2025 08:51:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Bilang Tidak]]></category>
		<category><![CDATA[Fraksi PKB]]></category>
		<category><![CDATA[NTT Disebut Adil]]></category>
		<category><![CDATA[Pergub Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=5071</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ana...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>KR</strong></em> &#8211; Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ana Waha Kolin, menilai Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 53 Tahun 2025 tentang Pendanaan Pendidikan bersifat diskriminatif dan tidak mencerminkan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Hal tersebut disampaikan Ana Waha Kolin kepada Wartawan, Kamis (30/10/2025), di ruang Fraksi PKB DPRD NTT.</p>
<p>Menurut Ana, hasil reses Fraksi PKB di berbagai daerah menunjukkan adanya ketimpangan kebijakan dalam Pergub tersebut.</p>
<p>Ia mencontohkan, terdapat poin yang mengatur bahwa anak penerima BLT, Raskin, dan Program Indonesia Pintar (PIP) tidak diwajibkan membayar Iuran Partisipasi Pendidikan (IPP).</p>
<p>Sementara itu, anak-anak yang tidak menerima bantuan pemerintah tetap diwajibkan membayar IPP.</p>
<p>“Di mana letak keadilannya? Banyak keluarga yang sebenarnya hidup susah tetapi belum terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), atau sekarang disebut DT-SEN. Mereka tidak mendapat bantuan, namun tetap dibebani kewajiban membayar IPP,” tegas Ana.</p>
<p>Ana menilai, kebijakan tersebut berpotensi menambah kesenjangan sosial dan menghambat pemerataan akses pendidikan di NTT.</p>
<p>Ia meminta pemerintah provinsi untuk meninjau ulang Pergub Nomor 53 Tahun 2025 sebelum diterapkan secara luas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
