<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Karya Puisi &#8211; kabartimor.id</title>
	<atom:link href="https://kabartimor.id/tag/karya-puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<description>Jernih Melihat Dunia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Aug 2025 11:05:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://kabartimor.id/wp-content/uploads/2024/11/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Karya Puisi &#8211; kabartimor.id</title>
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Camat Mustan Boli: Terima Kasih Reu Thomas, Karya Puisi Jadi Api Semangat Anak Pulau</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/camat-mustan-boli-terima-kasih-reu-thomas-karya-puisi-jadi-api-semangat-anak-pulau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2025 10:15:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Api Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Camat Mustan Boli]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=4632</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; Nama Thomas Krispianus Swalar tak asing lagi di SMA Negeri 1 Nagawutun. Bagi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="1337" data-end="1644"><em><strong>KR</strong></em> &#8211; Nama Thomas Krispianus Swalar tak asing lagi di SMA Negeri 1 Nagawutun. Bagi kalangan masyarakat maupun siswa, ia bukan sekadar guru, tetapi sahabat yang selalu hadir dengan senyum penuh ketulusan.</p>
<p data-start="1646" data-end="1878">Di balik senyumnya, tersimpan api kecil yang terus menyala, &#8220;cinta pada literasi&#8221; Ia percaya, membaca dan menulis bukan hanya kegiatan akademik, tetapi jalan menuju kebebasan berpikir, jalan menuju masa depan yang lebih terang.</p>
<p data-start="1880" data-end="1989">“Dari kata lahir keberanian, dan dari keberanian lahir perubahan,” sering ia ucapkan kepada murid-muridnya.</p>
<p data-start="2032" data-end="2226">Tanggal 17 Agustus 2025 menjadi saksi. Di tengah gegap gempita perayaan 80 tahun Indonesia merdeka, di Kecamatan Nagawutun, sebuah suara mengalun syahdu. Suara itu milik Thomas Swalar.</p>
<p data-start="2228" data-end="2280">Dengan penuh penghayatan, ia membacakan puisi <em data-start="2283" data-end="2308">“Aku Melihat Indonesia”</em> karya Bung Karno, sebuah karya monumental yang lahir dari jiwa besar proklamator bangsa.</p>
<p data-start="2402" data-end="2538"><em data-start="2402" data-end="2426">Sedangan “</em>Puisi Nyanyian Negeri Paus Karya Thomas Krispianus Swalar yang dibawakan oleh Ibu Rofina Hobamatan seorang Bidan di Puskesmas Loang</p>
<p data-start="2540" data-end="2685">Setiap baitnya menggema di udara, menyatukan semangat kemerdekaan dengan napas sastra. Hadirin terdiam, lalu bertepuk tangan dalam hati dengan penuh haru.</p>
<p data-start="2727" data-end="2993">Hari itu menjadi lebih istimewa ketika Camat Nagawutun juga, Mustan Boli, S.Sos., M.Si., menerima sebuah hadiah berharga.</p>
<p data-start="2727" data-end="2993">Thomas menyerahkan buku berjudul <em data-start="2881" data-end="2907">“Buku Swara-Swara Anak Pulau”</em>, Karya Para Penulis se-Indonesia.</p>
<p data-start="2995" data-end="3238">Buku tersebut diterima sebagai koleksi resmi Pemerintah Kecamatan Nagawutun.</p>
<p data-start="2995" data-end="3238">“Kami berterima kasih atas sumbangan literasi ini. Buku ini akan menjadi warisan penting bagi generasi berikutnya,” ujar Camat Mustan dengan nada penuh penghargaan.</p>
<p data-start="3240" data-end="3438">Bagi Thomas, penyerahan buku itu adalah bentuk sederhana dari cinta tanah air. “Semoga buku ini menjadi cahaya kecil yang terus menyala di hati anak-anak pulau,” katanya, dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p data-start="3477" data-end="3653">Puisi bukan sekadar rangkaian kata, bagi Thomas ia adalah nafas bangsa. Ia yakin, sebagaimana dalam nadi Bung Karno  “Aku Melihat Indonesia,” puisi adalah jendela masa depan.</p>
<p data-start="3655" data-end="3964">Melalui puisinya, <em data-start="3673" data-end="3698">“Nyanyian Negeri Paus,”</em> Thomas bercerita tentang laut luas NTT, tentang paus yang menjadi simbol kekuatan, dan tentang anak-anak yang tumbuh di pulau kecil dengan mimpi besar.</p>
<p data-start="3655" data-end="3964">“Puisi adalah cara saya berbicara tentang tanah kelahiran, tentang kebanggaan, dan tentang harapan,” ungkapnya.</p>
<p data-start="4010" data-end="4327">Bagi Thomas, literasi adalah kunci pembebasan. Di kelas, ia tak henti mendorong murid-muridnya membaca buku, menulis artikel sederhana, hingga berani tampil membaca puisi.</p>
<p data-start="4010" data-end="4327">Ia percaya, anak yang terbiasa membaca dan menulis akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis, kreatif, dan berani bersaing dengan dunia luar.</p>
<p data-start="4329" data-end="4491">“Kalau anak-anak terbiasa membaca dan menulis, maka mereka punya daya saing. Dunia ini luas, dan literasi adalah tiket untuk bisa menjelajahinya,” tegas Thomas.</p>
<p data-start="4527" data-end="4793">Nagawutun, Ia juga membentuk komunitas literasi kecil di desa, tempat anak-anak bisa membaca, menulis, dan berdiskusi.</p>
<p data-start="4989" data-end="5094">“Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” begitu prinsip hidupnya.</p>
<p data-start="5150" data-end="5313">Buku <em data-start="5155" data-end="5179">Swara-Swara Anak Pulau</em> adalah bukti nyata. Buku itu lahir dari tangan para penulis muda NTT, cermin kegelisahan, harapan, dan cinta mereka pada tanah air.</p>
<p data-start="5551" data-end="5728">Ketika banyak orang membicarakan pembangunan infrastruktur, Thomas bicara tentang pembangunan jiwa. Ketika sebagian sibuk mengejar angka, ia sibuk menyalakan api literasi.</p>
<p data-start="5730" data-end="5942">Senyumnya adalah energi, puisinya adalah suara hati, karyanya adalah warisan. Pada usia ke-80 Indonesia merdeka, ia mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sastra, literasi, dan pendidikan.</p>
<p data-start="5944" data-end="6022">“Selama ada kata, akan selalu ada harapan,” tutupnya dengan penuh keyakinan.</p>
<p data-start="5944" data-end="6022"><em><strong>Reporter: Dangke</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
