<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kemanusiaan &#8211; kabartimor.id</title>
	<atom:link href="https://kabartimor.id/tag/kemanusiaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<description>Jernih Melihat Dunia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Aug 2026 10:24:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://kabartimor.id/wp-content/uploads/2024/11/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Kemanusiaan &#8211; kabartimor.id</title>
	<link>https://kabartimor.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>DPW PSI NTT Minta Seluruh Kader Bergerak Bantu Korban Gempa Flores</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/sekretaris-dpw-psi-ntt-minta-seluruh-kader-bergerak-bantu-korban-gempa-flores/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2026 06:38:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Bantuan Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Junaidi Mahasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Korban Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[PSI NTT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=6693</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus mengerakan seluruh jajaran pengurus dan anggota...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>KR</strong></em> &#8211; DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus mengerakan seluruh jajaran pengurus dan anggota legislatif PSI kabupaten dan kota segera bergerak membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.</p>
<p>Gempa tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Flores dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan bangunan.</p>
<p>Hal tersebut disampaika  melalui sekretaris Junaidi bahwa dalam situasi bencana seperti ini, ia menegaskan bahwa kehadiran kader PSI harus dirasakan langsung oleh masyarakat.</p>
<p>“Ini bukan saatnya berbicara tentang perbedaan politik. Ini saatnya hadir bersama rakyat, tegas Junaidi.</p>
<h3>Pengurus PSI Diminta Turun Langsung</h3>
<p>Junaidi meminta seluruh pengurus PSI mulai dari tingkat DPW, DPD, DPC hingga jajaran di tingkat desa dan kelurahan untuk turun langsung membantu masyarakat terdampak.</p>
<p>Selain pengurus partai, seluruh anggota DPRD Provinsi maupun DPRD kabupaten/kota dari PSI diminta memanfaatkan jaringan konstituen masing-masing untuk mengetahui kebutuhan masyarakat di lapangan.</p>
<p>Kebutuhan yang menjadi prioritas antara lain:</p>
<ul>
<li>Makanan dan air bersih;</li>
<li>Obat-obatan dan perlengkapan kesehatan;</li>
<li>Selimut, terpal dan tenda;</li>
<li>Pakaian serta kebutuhan bayi dan anak;</li>
<li>Kebutuhan perempuan dan kelompok rentan;</li>
<li>Kebutuhan mendesak lainnya bagi warga yang mengungsi.</li>
</ul>
<h3>Bantuan Harus Tepat Sasaran</h3>
<p>Junaidi juga meminta seluruh anggota legislatif dan pengurus PSI berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, tenaga kesehatan, serta relawan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Ipda Yunus Labba Merawat 119 Anak Yatim di NTT</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/kisah-ipda-yunus-labba-merawat-119-anak-yatim-di-ntt/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 15:50:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[34 Anak NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Yatim]]></category>
		<category><![CDATA[Ipda Yunus Labba]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolsek Amarasi Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Haru]]></category>
		<category><![CDATA[Panti Asuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi Humanis]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi Peduli]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=6665</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; Tidak semua pahlawan datang dengan kisah yang gemerlap. Sebagian justru berjalan dalam diam,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><em><strong>KR</strong></em> &#8211; Tidak semua pahlawan datang dengan kisah yang gemerlap. Sebagian justru berjalan dalam diam, menyisihkan penghasilan, menanggung beban, bahkan rela berutang demi memastikan anak-anak yang kehilangan kasih sayang orang tua tetap memiliki tempat untuk pulang.</p>
<p dir="ltr">Kisah itu datang dari Ipda Yunus Labba, perwira Polri yang bertugas sebagai Kapolsek Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).</p>
<p dir="ltr">Di balik seragam dan tanggung jawabnya sebagai anggota kepolisian, Yunus menyimpan perjalanan kemanusiaan yang telah dimulainya sejak 2007.</p>
<p dir="ltr">Selama bertahun-tahun, ia bersama istrinya, Marselina Wunda Bali, merawat anak-anak yatim piatu dan anak terlantar.</p>
<p dir="ltr">Jumlahnya bukan satu atau dua orang. Anak-anak yang pernah diasuhnya telah mencapai lebih dari seratus orang sepanjang perjalanan pengabdiannya.</p>
<p dir="ltr"><strong>Berawal dari Keterbatasan</strong></p>
<p dir="ltr">Yunus tidak memulai perjuangan itu dengan harta berlimpah.</p>
<p dir="ltr">Ia mengaku justru memulainya dari keterbatasan. Gaji sebagai anggota Polri harus dibagi untuk kebutuhan keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan anak-anak yang diasuhnya.</p>
<p dir="ltr">“Saya mulai dengan keterbatasan saya. Gaji yang mungkin juga tidak terlalu bisa menopang anak-anak yang saya asuh dengan jumlah anak yang seperti itu,” tuturnya pada Jumat, 14/08/2026.</p>
<p dir="ltr">Tahun 2007 menjadi titik awal. Dengan kemampuan yang ada, Yunus mulai meminjam uang untuk membangun kamar tidur dan memenuhi berbagai perlengkapan bagi anak-anak yang tinggal bersamanya.Tahun berganti.</p>
<p dir="ltr">Pada 2008 ia kembali berusaha memenuhi kebutuhan anak-anak. Tahun 2009, perjuangan yang sama kembali dilakukan. Bukan sekali, tetapi berulang kali, selama bertahun-tahun.</p>
<p dir="ltr">Anak-anak terus bertambah. Tanggung jawab pun semakin besar.</p>
<p dir="ltr">Hingga sekitar 2014, jumlah anak yang diasuhnya telah mencapai sekitar 23–24 orang. Di titik itu, Yunus mulai merasakan beratnya beban yang harus ditanggung. Namun ia memilih tidak menyerah.</p>
<p dir="ltr"><strong>Pulang Dinas, Berangkat Kerja Lagi</strong></p>
<p dir="ltr">Untuk mencukupi kebutuhan anak-anak, Yunus mencari pekerjaan tambahan di luar jam dinas sebagai polisi.</p>
<p dir="ltr">Ia bekerja sebagai chief security di Lippo Plaza.</p>
<p dir="ltr">Setelah menyelesaikan tugas kedinasannya, ia kembali bekerja. Waktu istirahat pun harus berbagi dengan tanggung jawab lain.</p>
<p dir="ltr">Semua dilakukan bukan untuk memperkaya diri.</p>
<p dir="ltr">Melainkan agar anak-anak yang telah bergantung kepadanya tetap bisa makan, tidur dengan layak dan bersekolah.</p>
<p dir="ltr">“Di luar jam dinas, jam enam sore, jam tujuh saya di Lippo Plaza,” kenangnya.</p>
<p dir="ltr">Perjalanan tersebut menggambarkan satu hal: menjadi polisi baginya bukan alasan untuk berhenti menjadi manusia yang peduli terhadap sesama.</p>
<p dir="ltr"><strong>Dari Rumah Pribadi Menjadi Panti Asuhan</strong></p>
<p dir="ltr">Ketika jumlah anak semakin banyak, Yunus menyadari bahwa mereka membutuhkan wadah yang lebih kuat dan memiliki legalitas.</p>
<p dir="ltr">Ia kemudian berkonsultasi dengan sejumlah orang, termasuk para hamba Tuhan.</p>
<p dir="ltr">Dari sana muncul dorongan agar anak-anak tersebut dinaungi melalui sebuah lembaga resmi.</p>
<p dir="ltr">Yunus pun mulai mengurus pendirian yayasan.</p>
<p dir="ltr">Pada akhir 2016, proses pendirian yayasan diajukan. Kemudian pada 24 Februari 2017, akta notaris dan SK Kemenkumham terbit.</p>
<p dir="ltr">Lahirnya yayasan tersebut menjadi babak baru dalam perjuangannya.</p>
<p dir="ltr">Pada 2017, jumlah anak yang diasuh mencapai sekitar 34 orang dan  bertambah lagi pada Tahun 2024 jadi 119 anak.</p>
<p dir="ltr">Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung perlahan berkembang menjadi sebuah tempat yang lebih layak bagi anak-anak.</p>
<p dir="ltr"><strong>Hampir Rp2 Miliar, Dikumpulkan Bertahun-Tahun</strong></p>
<p dir="ltr">Perjalanan membangun tempat tinggal bagi anak-anak itu bukan perkara mudah.</p>
<p dir="ltr">Yunus mengaku harus melakukan pinjaman secara bertahap selama bertahun-tahun. Salah satu pinjaman terakhir yang disebutkannya pada 2025 mencapai sekitar Rp920 juta.</p>
<p dir="ltr">Namun ia menegaskan, angka hampir Rp2 miliar bukanlah uang yang dikeluarkan sekaligus.</p>
<p dir="ltr">“Tidak langsung Rp2 miliar. Saya kalkulasikan semua itu hampir Rp2 miliar, sekitar Rp1,9 miliar. Itu akumulasi dari 2007 sampai hari ini,” jelasnya.</p>
<p dir="ltr">Biaya pembangunan juga tidak sederhana. Lokasi tempat tinggal yang berada di area berkontur tebing membuat proses pembangunan membutuhkan biaya lebih besar.</p>
<p dir="ltr">Bagian bawah bangunan kemudian dimanfaatkan untuk gudang, dapur dan ruang makan.</p>
<p dir="ltr">Sedikit demi sedikit, dari pinjaman, penghasilan pribadi, pekerjaan tambahan dan bantuan berbagai pihak, bangunan tersebut terus berkembang hingga memiliki beberapa lantai.</p>
<p dir="ltr"><strong>Ada Air Mata, Ada Tangan-Tangan yang Membantu</strong></p>
<p dir="ltr">Yunus tidak menampik bahwa perjuangan tersebut sering menimbulkan pertanyaan.</p>
<p dir="ltr">Bagaimana mungkin seorang anggota Polri dengan pangkat yang tidak tinggi mampu membiayai pembangunan yang nilainya hampir Rp2 miliar?</p>
<p dir="ltr">Menurutnya, pertanyaan itu wajar.</p>
<p dir="ltr">Namun angka tersebut merupakan hasil akumulasi perjuangan selama hampir dua dekade.</p>
<p dir="ltr">Di tengah keterbatasannya, ia juga mendapat dukungan dari sejumlah pimpinan Polri dan pihak lain yang peduli terhadap anak-anak asuhnya.</p>
<p dir="ltr">Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada pimpinan Polri, termasuk Kapolri, Kapolda NTT dan jajaran lainnya yang menurutnya telah memberikan dukungan.</p>
<p dir="ltr">“Saya apresiasi juga buat pimpinan, mulai dari Bapak Kapolri, Pak Kapolda dan semua pejabat. Mereka sangat mendukung saya,” ujarnya.</p>
<p dir="ltr"><strong>Gaji Habis, Tetapi Tugas Tidak Boleh Terabaikan</strong></p>
<p dir="ltr">Ada satu kalimat Yunus yang mungkin menjadi gambaran paling sederhana tentang prinsip hidupnya.</p>
<p dir="ltr">Ia mengatakan bahwa gaji dan remunerasinya habis untuk kebutuhan anak-anak yang diasuhnya.</p>
<p dir="ltr">Namun kondisi tersebut tidak membuatnya mengabaikan tugas sebagai anggota Polri.</p>
<p dir="ltr">“Saya tidak terima gaji remun dan gaji saya habis. Tapi apakah itu harus membuat saya malas-malasan di kantor? Tidak. Kantor menjadi prioritas,” tegasnya.</p>
<p dir="ltr">Baginya, pengabdian kepada anak-anak dan tugas sebagai polisi bukan dua hal yang harus dipertentangkan.</p>
<p dir="ltr">Keduanya justru menjadi bagian dari jalan hidup yang ia yakini diberikan Tuhan.</p>
<p dir="ltr"><strong>Dari Anak Panti, Menjadi Orang Tua bagi Anak Panti</strong></p>
<p dir="ltr">Ada sisi lain yang membuat kisah Yunus terasa semakin menyentuh.</p>
<p dir="ltr">Ia sendiri pernah merasakan kehidupan sebagai anak yang tumbuh dalam keterbatasan dan pernah tinggal di panti asuhan.</p>
<p dir="ltr">Mungkin karena itulah ia memahami bagaimana rasanya seorang anak membutuhkan tempat untuk berlindung, seseorang untuk mendengar cerita, dan sosok yang berkata, “Kamu tidak sendirian.”</p>
<p dir="ltr">Kini ia memilih menjadi orang yang memberikan apa yang dahulu mungkin sangat dibutuhkan seorang anak.</p>
<p dir="ltr">Bukan sekadar menyediakan tempat tidur.</p>
<p dir="ltr">Bukan hanya menyediakan makanan.</p>
<p dir="ltr">Tetapi memberikan kesempatan untuk bersekolah, tumbuh, bermimpi dan menatap masa depan.</p>
<p dir="ltr">Seragam Polisi dan Hati Seorang Ayah</p>
<p dir="ltr">Di siang hari, Yunus mengenakan seragam dan menjalankan tugas sebagai polisi.</p>
<p dir="ltr">Di luar tugas kedinasannya, ia menjadi sosok ayah bagi anak-anak yang membutuhkan kasih sayang.</p>
<p dir="ltr">Dua dunia yang tampak berbeda itu bertemu dalam satu nilai: pengabdian.</p>
<p dir="ltr">Ia tidak ingin kisahnya dibaca sebagai kisah tentang seorang polisi yang mampu mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Justru sebaliknya.</p>
<p dir="ltr">Ia ingin perjuangannya dilihat sebagai bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.</p>
<p dir="ltr">Dari kamar sederhana pada 2007, perjalanan itu tumbuh menjadi sebuah rumah besar yang menampung harapan.</p>
<p dir="ltr">Dari seorang polisi dengan penghasilan terbatas, lahir sosok yang rela bekerja setelah jam dinas demi anak-anak.</p>
<p dir="ltr">Dan dari seorang manusia yang pernah merasakan hidup dalam keterbatasan, tumbuh seorang ayah bagi begitu banyak anak yang membutuhkan kasih.</p>
<p dir="ltr">Pada akhirnya, mungkin bukan berapa rupiah yang telah dikeluarkan yang paling penting.</p>
<p dir="ltr">Melainkan berapa banyak anak yang kembali percaya bahwa hidup masih memiliki masa depan.</p>
<p dir="ltr">Itulah jejak pengabdian Ipda Yunus Labba seorang polisi yang memilih tidak hanya menjaga keamanan dengan seragamnya, tetapi juga menjaga masa depan anak-anak dengan hatinya.</p>
<p dir="ltr">“Tuhan memberkati. Shalom, shalom.” (**)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Migrasi NTT Tak Sekadar Isu Tenaga Kerja, Tapi Kemanusiaan</title>
		<link>https://kabartimor.id/daerah/migrasi-ntt-tak-sekadar-isu-tenaga-kerja-tapi-kemanusiaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[kabartimor.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 May 2025 01:26:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Tenaga Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartimor.id/?p=4300</guid>

					<description><![CDATA[KR &#8211; Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Suaratmi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>KR</strong></em> &#8211; Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Suaratmi Hamida, S.Sos, saat diwawancari diruangan kerjanya pada Selasa, 27 Mei 2025.</p>
<p>Ia menyuarakan keprihatinan mendalam atas maraknya pekerja migran asal NTT yang bekerja secara ilegal ke luar negeri, khususnya ke Malaysia.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa negara tetap wajib hadir dan melindungi mereka sebagai warga negara Indonesia, tanpa membeda-bedakan status legalitas.</p>
<p>&#8220;Walaupun mereka berangkat secara tidak resmi, mereka tetap manusia, tetap warga negara Indonesia. Perlindungan adalah hak mereka,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dalam kurun 2024, dari 125 jenazah pekerja migran yang dikirim dari luar negeri, hanya 6 yang tercatat resmi, sisanya 98% adalah ilegal.</p>
<p>Suaratmi mengungkapkan bahwa fenomena migrasi dari NTT ke Malaysia sudah berlangsung sejak 1934, jauh sebelum Indonesia merdeka.</p>
<p>Pola migrasi ini bersifat tradisional, diwariskan turun-temurun, dan belum sepenuhnya tersentuh intervensi negara.</p>
<p>&#8220;Pemerintah baru hadir sejak 1970. Ini menciptakan kesenjangan antara kebijakan negara dengan realitas di lapangan. Banyak dari mereka berangkat bukan karena diperdagangkan, tapi karena ingin memperbaiki nasib,&#8221; jelasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
