Daerah  

Flores dan Nusa Tenggara: Tanah yang Ditempa Api, Diuji Kekeringan, Namun Tak Pernah Berhenti Memberi Kehidupan

Reporter : Ivan Wuran
dok. Istimewa

Di pulau ini, manusia hidup sangat dekat dengan kekuatan alam.

Gunung api dapat memberi tanah. Tetapi gunung api juga dapat menguji manusia. Hujan memberi kehidupan. Tetapi hujan deras di lereng yang rapuh dapat membawa longsor. Laut memberi ikan. Tetapi laut juga menyimpan ancaman tsunami. Tanah memberi hasil. Tetapi tanah yang sama membutuhkan perlindungan dari erosi.

Tidak ada hadiah alam yang benar-benar datang tanpa tanggung jawab. Itulah hukum yang diam-diam ditulis bumi di Flores dan Nusa Tenggara.

Orang yang tumbuh di tanah yang mudah mungkin belajar menikmati hasil. Tetapi orang yang tumbuh di tanah yang sulit belajar menghargai proses.

Baca Juga :  Lowongan Kerja PT Sugar Group Terbuka untuk SMA/SMK

Mereka tahu bagaimana rasanya menunggu hujan. Tahu bagaimana rasanya melihat kebun mengering. Tahu bahwa sebutir jagung bukan sekadar makanan.

Di baliknya ada tanah. Ada hujan. Ada keringat. Ada doa. Ada harapan. Dan ada ketabahan.

Karena itu, jangan pernah menganggap tanah Flores dan Nusa Tenggara sebagai tanah yang miskin hanya karena sebagian lanskapnya tampak kering.

Kering bukan berarti mati.
Sulit bukan berarti miskin.
Dan kerasnya alam bukan berarti kecilnya kehidupan.

Mungkin, pada akhirnya, Flores dan Nusa Tenggara bukanlah cerita tentang tanah yang mudah. Ia adalah cerita tentang tanah yang menguji. Tanah yang ditempa api. Dibentuk oleh pergerakan bumi. Dikeringkan matahari. Dibasahi hujan yang datang musiman. Dan dijaga oleh manusia yang tidak pernah berhenti berharap.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KabarTimor.Com

+ Gabung